Cara Mendidik Anak Secara Islami Ala Sayyidina Ali K.W

Setiap orang yang menikah pasti mendambakan memiliki anak. Dan setelah mendapatkan anak, maka orang tua pasti mendambakan anaknya menjadi anak yang baik dan shaleh.

Anak merupakan titipan dan amanah dari Allah SWT untuk kita didik dan bimbing dengan benar supaya menjadi anak yang shaleh.
Cara mendidik anak secara Islami
Mendidik anak
Gambar: www.theatlantic.com
Ada banyak hal yang perlu diperhatikan oleh para orang tua dalam mendidik anak-anaknya supaya tidak salah dalam mengambil langkah.

Di dalam agama Islam pun diajarkan bagaimana cara mendidik anak yang baik. Baik itu dari Nabi SAW sendiri, ataupun dari para sahabat.

Didiklah anakmu sesuai dengan jamannya, Karena mereka hidup bukan di jamanmu.

Itulah salah satu kutipan yang terkenal dari khalifah umat Islam yang ke-4, sayyidina Ali bin Abi Thalib RA.

Ini menunjukan bahwa mendidik anak memiliki peranan penting dalam Islam.

Karena baik buruknya anak tergantung pada didikan orang tua dan pengaruh lingkungan sekitar.

Banyak hal yang perlu diperhatikan untuk bisa menentukan pola pendidikan yang terbaik untuk anak.

Cara memperlakukan anak menurut sayyidina Ali RA

Cara memperlakukan anak menurut sayyidina Ali ada tiga pengelompokkan, yaitu:

<•> Pada usia 7 tahun pertama (antara usia 0-7 tahun), perlakukan anak sebagai raja.

<•> Pada usia 7 tahun kedua (antara usia 8-14 tahun), perlakukan anak sebagai tawanan.

<•> Pada usia 7 tahun ketiga (antara usia 15-21 tahun), perlakukan anak sebagai sahabat.

Memperlakukan anak sebagai raja (usia 0-7 tahun)

Hal terbaik yang dapat kita lakukan pada anak usia dibawah 7 tahun adalah melayaninya dengan tulus hati, ikhas sepenuh hati dan penuh rasa kasih sayang.

Banyak hal kecil yang sering dianggap sepele padahal dapat memberikan dampak baik pada perilaku anak suatu saat nanti. Misalnya saja:

<•> Jika anak memanggil lalu kita menjawab dan menghampirinya, bahkan meskipun disaat sedang sibuk dengan pekerjaan sekalipun maka suatu saat nanti si anak akan menjawab dan menghampiri kita jika kita memanggilnya.

<•> Saat kita tiada bosan mengusap punggung anak hingga ia terlelap, maka suatu saat nanti kita akan terharu saat melihat anak membelai dan memijat punggung kita ketika kita lelah atau sakit.

<•> Jika kita berusaha sekuat tenaga menahan emosi saat anak melakukan kesalahan sebesar apapun, maka lihatlah suatu saat nanti kita akan melihat dia akan mempu menahan emosinya saat adik atau temannya melakukan kesalahan kepadanya.

Maka dari itu jika kita berusaha menyenangkan hati dan melayani anak dibawah usia 7 tahun, Insya Allah suatu saat nanti ia akan tumbuh menjadi pribadi yang perhatian, bertanggung jawab dan menyenangkan.

Serta jika kita memperlakukannya seperti raja, suatu saat nanti dia akan memperlakukan kita seperti raja dan ratunya.

Memperlakukan anak sebagai tawanan (usia 8-14 tahun)

Kedudukan seorang tawanan perang dalam Islam sangatlah terhormat.

Ia diberi haknya secara proporsional, tetapi ada juga berbagai larangan dan kewajiban yang harus dipatuhi.

Di usia 7-14 tahun merupakan saat yang tepat bagi seorang anak untuk diberi hak dan kewajiban tertentu.

Rasulullah SAW mulai memerintahkan seorang anak pada usia 7 tahun untuk melakukan sholat wajib.

Jika anak telah berusia 10 tahun tapi meninggalkan sholat, maka orang tua diperbolehkan memukul anaknya sebagai hukuman. Dengan catatan tidak sampai memberikan bekas luka.

Maka dari itu, pada usia 7-14 tahun merupakan saat yang tepat bagi anak-anak untuk diperkenalkan dan diajarkan tentang hal-hal yang berkaitan dengan hukum-hukum agama, seperti:

<•> Melaksanakan sholat wajib 5 waktu,
<•> Memakai pakaian yang menutup aurat, rapih dan bersih,
<•> Menjaga pergaulan dengan lawan jenis,
<•> Membiasakan membaca Al-Qur’an,
<•> Membantu pekerjaan rumah tangga yang bisa dikerjakan oleh anak seusianya,
<•> Menerapkan kedisiplinan dalam kegiatan sehari-hari.

Reward dan punishment akan sangat tepat diberlakukan pada tahap 7 tahun kedua ini, karena anak sudah bisa memahami arti dari tanggung jawab serta konsekuensinya.

Namun demikian, perlakuan pada setiap anak tidak harus sama kerena setiap anak memiliki keunikan masing-masing

Memperlakukan anak sebagai sahabat (usia 15-21 tahun)

Usia 15 tahun adalah usia umum ketika anak menginjak akil baligh.

Ada baiknya orang tua memposisikan diri sebagai sahabat dan memberikan teladan yang baik pada anak seperti yang diajarkan oleh Sayyidina Ali Ra.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua untuk memposisikan diri sebagai sahabat bagi anak.

>•> Berbicara dari hati ke hati
Inilah saat yang tepat untuk berbicara dari hati ke hati dengannya. Menjelaskan bahwa ia sudah remaja dan beranjak dewasa.

Perlu dikomunikasikan bahwa selain mengalami perubahan fisik, Ia juga akan mengalami perubahan secara mental, spiritual, sosial, budaya dan lingkungan.

Sehingga sangat mungkin akan ada masalah yang harus dihadapinya.

Hal yang paling penting bagi para orang tua yaitu harus dapat membangun kesadaran pada anak-anak bahwa pada usia setelah akil baligh ini, ia sudah memiliki buku amalannya sendiri yang kelak akan diminta pertanggung jawabannya oleh Allah SWT.

>•> Memberi Ruang Lebih
Setelah memasuki masa akil baligh, anak perlu memiliki ruang agar tidak merasa terkekang, namun tetap dalam pengawasan.

Controlling tetap harus dilakukan tanpa bersikap otoriter dan tentu saja diiringi dengan berdo’a untuk kebaikan dan keselamatannya.

Dengan demikian anak akan merasa penting, dihormati, dicintai, dihargai dan disayangi.

Selanjutnya, Ia akan merasa percaya diri dan mempunyai kepribadian yang kuat untuk selalu cenderung pada kebaikan dan menjauhi perilaku buruk.

>•> Mempercayakan tanggung jawab yang lebih berat
Waktu usia 15- 21 tahun ini penting bagi kita untuk memberinya tanggung jawab yang lebih berat dan lebih besar.

Dengan begini kelak anak- anak kita bisa menjadi pribadi yang cekatan, mandiri, bertanggung jawab dan dapat diandalkan.

Contoh pemberian tanggung jawab pada usia ini adalah seperti memintanya membimbing adik- adiknya mengerjakan beberapa pekejaan yang biasa dikerjakan oleh orang dewasa.

Atau mengatur jadwal kegiatan dan mengelola kuangannya sendiri.

Itulah 3 fase/tahapan mendidik anak yang diajarkan Sayyidina Ali KW.

Semoga saja para orang tua bisa berlaku dan memberikan pendidikan yang tepat untuk anak-anaknya. Karena anak-anak merupakan amanah dan tanggung jawab orang tuanya.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Cara Mendidik Anak Secara Islami Ala Sayyidina Ali K.W"

Post a Comment